Malam ini setelah menyambangi orang ketiga dikantorku yang harus opname di Rumah sakit karena radang usus, aku dan 5 temenku mampir di Taman Warung daerah Bogor. Tempat makan ini cukup recomended bagi mereka yang ingin kow-kow dengan budget yang terjangkau (Nasi ayam Bakar ditawarkan hanya dengan harga Rp. 13000,00>> cukup murah bukan). Karna sudah agak malam, banyak dari menu yang sudah habis, sehingga kami membutuhkan waktu cukup lama untuk memesan. Sambil menunggu pesanan diantar, seperti orang yang "ndeso" kami berfoto ria..hee.. hanya mencoba membuat tetap eksis dan narsis..haa

Di sela obralan kami, salah seorang dari kami ada yang mencoba berjualan diri, dia menawarkan kursus public speaking dengannya. Cukup obral juga dia sehingga membuatku nyeletuk "Buka usaha Public speaking aja kmu, passionmu tuh"
spontan temen ku menjawab "jangan ucapkan kata passion itu, gw lagi eneg",,
wheheheee..

Di tempat dimana aku bekerja sering didengungkan kata passion. Menurut mereka tidak ada istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk menggambarkan makna dari passion itu sendiri. Tapi sejauh aku menangkap selama hampir satu tahun aku berada di tempat kerjaku, passion merupakan keinginan paling mendalam tentang sesuatu hal yang benar2 diinginkan untuk dikerjakan dimana ketika mengerjakannya akan merasa bahagia mengerjakannya walau dalam pekerjaan senang ataupun susah sekalipun.

Ketika pertama kali datang, passion itu memang belum ada. Akhirnya hanyalah impian yang muncul bukan passion. Apa yang ingin dikerjakan, apa yang ingin diraih, bagaimana aku satu tahun lagi, dst. Setelah itu, seiring dengan berjalannya waktu, hambatan, rintangan, dan kesulitan datang tanpa henti dan menempatkan seseorang di posisi pekerjaan susah (tidak enak). Kemudian orang tersebut memutuskan menyerah dan tidak mau melanjutkan lagi. Saat seperti inilah mengapa passion belum dimiliki, yang ada hanyalah impian yang tidak kunjung terwujud.

Sebagai orang yang tidak takut bermimpi, keadaan seperti ini sering membuat frustasi. Maju tdk bisa, mundur salah. Akhirnya yang terjadi adalah kehilangan status diri. Apa yang ingin dikerjakan, apa yang ingin diwujudkan, apa yang ingin diraih, semuanya kabur dan hilang.

Beberapa teman ada yang mencoba bertahan, dan mencoba mencari impian lain sambil berharap suatu saat bertemu dengan passionnya, orang seperti ini cukup gigih menurutku, dia berani jatuh-bangun sekian kali demi idealisme menemukan passionnya di tempat yang sama seperti impian yang sebelumnya, atau mungkin karna rasa sungkan pada sang owner jika harus menyerah mundur dan kalah,, entahlah,,yang pasti usaha disini tidaklah mudah dan butuh ekstra semangat untuk membuat batu karang tetap kokoh.

Namun, tidak sedikit pula teman yang langsung memutuskan untuk merubah arah, memutar haluan dan memilih idealisme lain. Orang seperti ini juga merupakan teman yang gigih, dia gigih untuk hidupnya, daripada dia tersiksa, kehilangan status diri, dan merasa wasting time, sementara ada dunia lain di luar sana yang bisa menjawab impian - impiannya. Teman ini tetap gigih untuk mendapatkan impiannya, walau impiannya berada ditempat berbeda.

Lalu, dimanakah posisi temanku sekarang, dan mungkin posisi diriku sendiri?? untuk menjawab pertanyaan ini pun tidaklah mudah. Hanya untuk memutuskan untuk menjadi batu karang yang kokoh atau memilih mengorbit di planet yang baru membutuhkan pemikiran yang matang, tepat, dan akurat (haiya...) memilih impian atau passion??

Selengkapnya...


Sudah lama tidak mampir ke Blog.. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan, atau sibuk dengan temen – temen, atau sibuk dengan urusan tetek bengek.. tapi karna :
  1. Nulis belum menjadi bagian dari diriku, jadi sering naik – turun moodnya. Dan selama beberapa bulan belakangan moodnya sedang di bawah..hee.. kebetulan aja nie temen2 jaman SMA ada yang menyentil blog, jadi muncul lagi niatnya buat nulis dan berbagi cerita perjalanan seorang anak biasa.
  2. Lupa password masuk ke blog. Klo yang satu ini emang dasarnya otak yang dudul. Udah tau kapasitas otak pas – pasan, buat password beda – beda. Hmm…
Tapi,, aku mo mulai berbagi lagi nie.. Kumulai dari perjalanan hari ini …
it’s about Love for Marriage..
Weits..kenapa aku milih topic ini?? Apakah aku sedang jatuh cinta?? Apakah cowokku udah mo ngajak merit??...whehehehe..bukan..bukan tentang pertanyaan itu..
Tapi tentang sebagian dari duniaku sedang HOT membicarakan pernikahan. Yup, di usia 23 tahun lebih, beberapa teman sudah mulai mengedarkan surat undangan pernikahan. Bahkan 2 bulan terakhir ini, ada 2 teman seangkatan kerja ku yang re-sign karna mo merit Tahun depan. Secara bertubi – tubi beberapa sahabat lama maupun baru sudah BERANI memutuskan mengambil langkah besar dalam hidupnya. Lalu pertanyaan yang muncul adalah :
“apa yang membuat mu berani memutuskan menikah” ?? ini bukanlah tentang financial, karna aku yakin untuk hal satu ini bisa diusahakan bersama.
Berbagai jawaban kucari :
Dari Mas Genthong : “Menemukan pasangan adalah dengan 3 tahapan, pertama adalah dengan memilih, kedua adalah dengan kompromi, dan ketiga adalah dengan menerima adanya apa. Menurutnya, tahapan memilih hanyalah tahapan ketika masih pacaran, dimana bisa memilih yang terbaik (ini hanya bisa untuk senang-senang). Tahapan apa adanya adalah tahapan dimana seseorang menerima apa yang ada dihadapannya (misal dijodohkan). Dan untuk pernikahan dia memilih tahapan kompromi, tahap dimana segala sesuatunya harus bisa dibicarakan, diseimbangkan, jadi seorang cewek /cowok bisa berkompromi dengan kekurangan pasangannya (misal cowoknya botak).”
Cowok playboy yang dikelilingi cewek – cewek cantik, tapi memutuskan menambatkan dirinya pada seorang wanita biasa yang luar biasa yang akan mengekang kehidupan bebasnya.
Dari Mbak Suvi : “Klo kamu sudah menemukan orang yang berbeda terbalik denganmu maka beranilah memilihnya. Kalo kamu dapetnya orang yang sama karakter, maka dunia kalian hanya itu – itu saja. Tidak ada tantangan lain.”
Cewek cantik yang sangat dewasa, wawasannya luas, dan memilih pria gendhut yang 3 tahun lebih muda darinya tapi bisa bertindak lebih dewasa dari si cewek.
Dari Pak Chandra : “ Aku menikahi istriku sekarang ini karana Cinta, karna aku sudah berpacaran lama denganya, aku memilihnya karna kami banyak persamaan dan dia sekarang adalah ibu dari anak – anakku.”
Pria matang yang tinggal terpisah dari anak dan istrinya dan hanya bertemu di akhir minggu.
Dari Mbak Jepit : “Aku akan menikahi pria yang mencintaiku dan memujaku. Jadi bukan aku yang mencintai dia, tapi dialah yang mencintaiku”.
Cewek cantik dan mandiri, dikejar banyak pria ganteng, tapi memilih pria gendhut dan hitam yang memujanya.
Dari Mbak Mekar : “ Koko ku baek, dia sangat sabar dan pengertian. Dia mau memasak buatku, mencuci baju-baju kotorku, menungguku di Rumah sakit, jauh – jauh datang dari Bali dikala ULTAHku”.
Cewek ayu yang mendapat sindiran dari mertua supaya lebih kurus karna klo jalan dengan sang cowok seperti angka 10, dan dia 0-nya.
Ternyata setiap pasangan mempunyai alasan sendiri kenapa mereka memutuskan menikah. Dari semua pendapat yang kudapat satu hal yang kulihat dari kesemuanya adalah tidak se- SEMPURNA seperti kisah dalam dongeng. Dan untuk diriku sendiri, aku belum mempunyai alasan yang tepat kenapa aku harus menikah. Tapi dari apa yang kudapat dari teman – temanku aku melihat :
Cinta yang diperlukan untuk pernikahan adalah tentang kompromi perbedaan – perbedaan yang ada, baik fisik maupun sifat supaya menjadi seimbang dan bisa berjalan berdampingan dengan serasi untuk saling memuja dan berbagi kasih dalam satu komitmen yang sudah disepakati bersama.
Jadi bagaimanakah cinta itu menyentuh mu dan membawamu berani memutuskan untuk mengatakan :
Would you marry me?? atau Yes, I do.
Selengkapnya...

Wow tak terasa sudah 7 bulan aku ada di tempat baru...
hmm..waktu yang cukup panjang...
dan ternyata belon ada satu karya yang berhasil kuselesaikan..
apa saja yang sudah kulakukan selama ini?

hmm..sungguh waktu yang sangat sia-sia kuhabiskan..
selalu..selalu seperti ini...

terkadang ingin sekali ku mengikuti kemana arah angin berhembus,,
semakin aku berusaha untuk melawan arah angin itu aku semakin terhempas,
namun, ketika ku mulai berjalan mengikuti arah angin itu aku juga semakin tak berarah
aku limbung dengan dunia yang penuh sesak
tidak tau arah mata angin yang benar,,

sendirian menghadapi kehidupan dengan banyak manusia didalamnya..
bagaimana aku bisa tau orang-orang tersenyum padaku...

Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat....
(perjalanan ke waterpark depok sepertinya menyenangkan..) Selengkapnya...